KATHMANDU, INDEKSMEDIA.ID – Platform pesan daring Discord, yang biasanya digunakan para gamer, tiba-tiba menjelma menjadi “parlemen virtual” bagi ribuan anak muda Nepal. Melalui debat sengit dan pemungutan suara daring, Gen Z Nepal memilih pemimpin baru setelah kerusuhan mematikan menumbangkan pemerintahan Perdana Menteri KP Sharma Oli.
Gelombang protes nasional dipicu tuduhan korupsi dan nepotisme, diperparah penindakan brutal aparat yang menewaskan sedikitnya 72 orang. Hilangnya kepercayaan pada partai politik arus utama mendorong kelompok Hami Nepal, komunitas Gen Z dengan lebih dari 160.000 anggota, menggelar forum terbuka di kanal Discord Youth Against Corruption.
Lebih dari 10.000 orang ikut dalam debat daring itu, dengan ribuan lainnya mengikuti siaran langsung di YouTube. “Kami tidak percaya lagi pada politikus yang bernegosiasi di ruang tertutup. Discord memberi kami cara baru yang transparan,” ujar salah satu peserta.
Setelah diskusi panjang, mantan Ketua Mahkamah Agung Sushila Karki (73) terpilih sebagai perdana menteri sementara. Presiden Ramchandra Paudel langsung melantiknya pada Jumat (12/9/2025), sembari membubarkan parlemen dan menetapkan pemilu baru pada Maret mendatang.
Bagi para demonstran, Discord bukan sekadar ruang digital, melainkan simbol revolusi. “Kami belajar sambil berjalan. Bertanya, berdiskusi, dan memilih langsung lewat ponsel,” kata Regina Basnet, 25 tahun, peserta debat.
Lima nama masuk daftar pendek sebelum Karki dipilih, termasuk wali kota Dharan Harka Sampang dan aktivis Mahabir Pun. Namun pilihan Gen Z akhirnya jatuh pada Karki, yang dipandang independen dari elit politik lama.
Analis menyebut langkah ini sebagai eksperimen demokrasi digital yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan risiko besar namun juga peluang segar untuk masa depan Nepal.












