Cerita Rakyat Tana Luwu: Pea Pakkajana Bete Sori

Cerita Rakyat dalam Budaya Tana Luwu (kolase)

INDEKSMEDIA.ID – Cerita rakyat menjadi salah satu ciri khas sudatu daerah.

Di Tana Luwu, ada cerita rakyat yang penuh dengan makna yang mendalam.

Cerita rakyat tersebut adalah Pea Pakkajana Bete Sori, seorang anak nelayan yang mencari ikan Tenggiri. Berikut ini ceritanya:

Pea Pakkaja Na Bete Sori

Pammulanna te carita, deng tau Luwu Tae na kande bete sori. 

Jolo-Jolona jio Luwu, deng tau matua si sola pea beccu, mimbanua jio biringna babana. Yari na jama to mappekang pake lembang-lembang beccu. Wasselamo to na balu.

“Bete!, Bete!, alliki bete Uwa!.

Masannang pinawanna ya ke cappu ngasang betena.

“ambe’!, ambe’!. 

Na bemmi ambe’na to doi.

“ala mi te’ na’, mu alliang beppa!”.

Sesanna te doi dialliang kande.

Masianna to na erai ana’na manjo siarai kabburuna indo’na. Manjomi sipaddua, mane na pitaddadoangangngi indo’na.

Puranna to na baraka ana’na!.

“Na’! masiang duambongi ke tae mo (ku mate), patarru te jama-jamang. Kari tutui to lembang!

Makalena jumai, macakka allo!

Manjomi mappekang sipaddua.

Jio tangnga tasi’, tae na disanna-sannai ramp abala.

Tilling to lembang.

Sisara to tau sipaddua.

“Ewaina’e!, ewainae!”

Tae mesa siamo tau sadding’i minggora.

Dirupang mi ambe’na, mate!.

Mane ana’na na pasalama bete sori, na rendeng jio biring tasi’.

La manjo na to bete, mappau to pea.

“Tarima kasi’, ta pasalama na’. Mattondronai: mappammula lako te allo, kaleku tarru ana ampoku tae na kande bete sori. Yake deng kandei, na rua saki’ kuli’, tae jampinna.”

Papasanna te carita:

Dau santa to pilei ya ke deng la ta bantu. To pada sikamase

Dau duka to takkalupa padanta rupa tau.

Olo kolo macca mappassalama, labbi-labbi kita te rupa tau’.

Hasil terjemahan dalam bahasa Indonesia

Cerita Rakyat Luwu

Anak Nelayan Dan Ikan Tenggiri

Kisah ini menceritakan tentang awal mula dari sebab sebagian masyarakat Luwu tidak mengkonsumsi ikan Tenggiri atau di kenal dengan ikan Sori di tengah masyarakat Luwu.

Dahulu kala di daerah Luwu, hiduplah seorang lelaki tua dan anak kecil, mereka tinggal di sekitar muara. Pekerjaan lelaki tua itu sebagai nelayan, setiap hari lelaki tua itu menjalankan aktivitasnya sebagai nelayan. Hasil tangkapannya kemudian di jual.

“Ikan…Ikan, beli ikannya! teriak si anak kecil ketika menjual dagangannya.

Dengan hati gembira, anak nelayan itu pulang membawa hasil jualannya.

“Bapak..Bapak! ini hasil jualan saya!. Sembari memberi hasil jualannya kepada bapaknya.

“Ambillah sebagian nak untuk kau gunakan jajan!. Sisanya digunakan untuk biaya hidup kita.

Keesokan harinya, lelaki tua itu mengajak anaknya untuk berziarah ke makam ibunya. Berangkatlah mereka berdua, kemudian memanjatkan doa untuk almarhum ibunya.

Maka berdoalah anak tersebut dan memohon ampunan untuk segala dosa ibunya.

“Ya allah, selamatkanlah ibu ku!”.

Selanjutnya bapak tersebut memeluk erat anaknya dan berkata:

“Nak, jika esok aku telah tiada, maka lanjutkanlah pekerjaan ini. Peliharalah perahu itu!”. Pinta sang bapak ke anaknya”.

Di suatu pagi yang cerah, mereka berdua berniat untuk berangkat kerja (memancing ikan). Di tengah perjalanan, tidak di sangka-sangka datanglah musibah, perahu yang mereka tumpangi tenggelam. Mereka berdua terombang-ambing dan berpisah satu sama lainnya.

“Tolong, tolong!” Teriak si anak”.

Namun tidak seorangpun yang mendengar suara anak tersebut.

Beberapa jam kemudian, ditemukan bapak anak itu meninggal dunia, sementara anaknya diselamatkan oleh ikan Tenggiri. Ikan tersebut membawa sang anak ke tepi laut.

Ketika sang ikan hendak kembali ke laut, maka berkatalah anak tersebut kepada sang ikan.

“Terima kasih telah menyelamatkanku, mulai hari ini, saya berjanji bahwa diriku sampai anak cucuku (keturunanku) tidak akan memakanmu. Apabila dia memakanmu maka akan di serang penyakit kulit yang tidak ada obatnya!”.

Demikianlah cerita rakyat yang disadur dari hasil penelitian Mutmainnah, salah seorang pemenang lomba artikel budaya Tana Luwu yang diselenggarakan oleh Indeksmedia.id.

Artikel ini merupakan kontribusi dari lomba penulisan budaya yang diselenggarakan indeksmedia.id dengan tema “Menumbuhkan Budaya Mentradisikan Literasi.”

Disclaimer: Indeksmedia.id tidak bertanggung jawab atas isi konten. Kami hanya menayangkan opini yang sepenuhnya jadi pemikiran narasumber. (*)

Maaf Untuk Copy Berita Silahkan Hubungi Redaksi Kami!