INDEKSMEDIA.ID – Idul adha menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk menumbuhkan keikhlasan dan kepedulian sosial melalui ibadah qurban. Dalam semangat itu, banyak cerita yang menginspirasi, salah satunya tentang seorang perempuan yang bersusah payah mengumpulkan uang agar sang ibu dapat berqurban.
Dikisahkan, seorang perempuan dengan penghasilan sederhana sebagai tukang cuci mendatangi penjual hewan qurban. Ia menawar seekor kambing murah yang sebenarnya setara harga modal. Setelah pertimbangan, penjual setuju menjualnya dengan harga yang diminta.
Perempuan itu kemudian membawa kambing tersebut ke rumahnya—sebuah gubuk sederhana yang ia tinggali bersama ibu dan anaknya. Tak ada perabot mewah, hanya dipan kayu beralaskan tikar. Di atasnya, sang ibu terbaring lemah karena usia senja.
Dengan wajah berseri, perempuan itu membangunkan ibunya dan berkata bahwa ia telah membelikan kambing untuk berqurban atas nama sang ibu. Wajah sang ibu tampak terkejut sekaligus bahagia, sembari mengucap syukur bisa turut berqurban meski hanya sekali seumur hidup.
Kisah ini menggambarkan bahwa semangat berqurban tidak ditentukan oleh kelapangan harta, tetapi oleh keikhlasan dan cinta kepada orang tua. Dalam keterbatasannya, perempuan itu menempatkan ibunya sebagai prioritas dalam beribadah, membuktikan bahwa makna qurban sesungguhnya adalah tentang pengorbanan dan ketulusan.
Di sisi lain, kisah seperti ini dapat menjadi bahan refleksi, terutama bagi mereka yang secara ekonomi tergolong mampu, namun masih menunda atau enggan berqurban. Padahal, tak jarang nilai barang-barang konsumtif yang dimiliki jauh melebihi harga seekor kambing qurban.












