INDEKSMEDIA.ID — Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan kawasan kaya dengan budaya.
Karena itu, NTT tidak hanya memiliki alam yang tampak mengagumkan, tetapi juga budaya dan tradisinya dapat memikat hati para pengunjung.
Salah satu budaya khas NTT adalah Bale Nagi, yang terselip dalam rangkaian tradisi keagamaan.
Bale Nagi merupakan lagu daerah yang berasal dari Larantuka, Kabupaten Flores Timur, NTT. Secara harfiah memiliki arti “pulang kampung.”
Lagu ini sebenarnya ialah suatu seruan untuk para perantau agar kembali ke kampung halaman.
“Ini adalah lagu yang menyampaikan kepada para perantau agar mereka segera pulang kampung,” kata Polikarpus, ketua Literasi NTT, kepada Indeksmedia.id, Jumat (5/5).
“Lagu Bale Nagi menjelmakan ihwal rasa rindu sang pemuda tehadap kampung halamannya, sahabat, orang tua, kakak, dan adiknya,” sambungnya.
Bahkan, lagu ini juga memiliki aspek kosmologis, suatu kerinduan terhadap lingkungan alam di Larantuka.
“Tidak hanya kepada masyarakat yang ada di Larantuka, tetapi juga para perantau diserukan agar selalu rindu kepada alam yang ada di sini,” bebernya.
Berikut ini lirik dan arti lagu Bale Nagi.
Lia lampu menyala di Pante Uste – e
(Lihat, ada cahaya lampu di Pantai Uste).
Orang bekarang di angin sejo – e
(Nelayan sedang menangkap ikan di kesejukan angin malam).
Inga pa mo ema jao – e
(Terkenang Bapak ibu nun jauh di sana).
Inga ade mo kak Jao – e
(Terkenang juga para saudara).
Pengga ole ma wura lewa Tanjo Bunga – e
(Berlayar melintas Arus Ole dan Arus Wura meninggalkan Tanjung Bunga).
Malam embo ujan po rinte – e
(Malam berembun, ada rintik hujan).
Tanjo Bunga meking jao – e
(Tanjung Bunga semakin jauh menghilang).
Sinyo tadampa pi Nagi orang – e
(Akhirnya terdampar di negeri orang lain).
Bale Nagi…. Bale Nagi, Sinyo – e
(Pulanglah, pulanglah ke kampung).
No-e kendati nae bero – e
(Walaupun menggunakan sampan kecil nelayan).
Bale Nagi…. Bale Nagi Sinyo – e
(Pulanglah, pulanglah ke kampung).
No – e, kendati nae bero – e
(Sekalipun menggunakan sampan kecil nelayan).
Inilah lirik lagu Bale Nagi. Dalam sudut pandang filsafat dan kosmologi, lagu ini mengandung suatu kepekaan manusia terhadap manusia dan alam.
Itulah budaya manusia, mencintai keduanya agar dirinya merasakan kasih sayang Tuhan. (Aa)












